Kamis, 29 November 2012

BAB 4

Aku langsung sadar, bahwa tak ada yang tak mungkin bagi seorang Mark Feehily. Dia pasti bisa dengan mudah mendapatkan informasi tentangku.

Aku masuk ke dalam kamar dan melempar tasku ke lantai. Lalu aku masuk ke dalam kamar mandi.
Mengisi bathub dengan air hangat, masukan sabun cair dan wewangin ke dalamnya. Lalu aku menanggalkan semua pakaianku dan masuk ke dalamnya.

Hangatnya air membuatku merasa lebih rileks. Hari yang benar-benar melelahkan, sangat menguras tenaga dan emosi. 

Aku begitu menikmati berendam di dalam bathtub dengan air hangat. Kerutan di jari-jariku mengharuskan aku untuk segera menyelesaikannya.

Aku memakai celana pendek dan sebuah tank top untuk tidur setelah mengeringkan tubuhku. Sambil mengeringkan rambutku aku duduk di depan tv.

***

“Hei, Freddy kau janji ya jika sudah dewasa nanti kau akan pergi mencariku ..“

“Tentu saja ChaCha, kita akan terus bersama-sama selamanya..“

Kata-kata itulah yang selalu terngiang dalam kepalaku. Setelah sekian lama mencari akhirnya aku menemukan cinta pertama di masa kecilku itu. Aku bersumpah akan selalu menjaganya meskipun dengan nyawaku sekalipun.

Sekarang aku bisa berada dekat dengan cinta pertamaku itu. Ia menjelma menjadi seorang wanita yang sangat cantik dan tetap keras kepala dan tidak mudah di perintah.

Namun sayang aku tidak memiliki keberanian untuk mengungkapkan siapa diriku sebenarnya. Biarlah ia membenciku dengan sifatku yang seperti ini. Karena aku ingin ia menerimaku dengan segala kekurangan yang aku miliki ini.

***

Aku pergi ke kantor dengan malas. Ya, aku malas jika harus bertemu dengan CEO yang tidak punya sopan santun itu.

“Pagi Nica, kau terlihat sedikit pucat apa kau baik-baik saja?“

“Pagi Sue, aku tidak begitu baik sebenarnya.“

“Kau harus sabar ya Mr. Feehily memang seperti itu.“

“Terima kasih sudah memperingatkanku, Sue. Aku harus segera menuju ke meja kerjaku.“

Aku segera duduk di kursiku dan menyalakan komputer.

“Buatkan aku kopi dan segera antarkan ke ruanganku.“

Tiba-tiba orang tak tahu sopan santun itu datang dan langsung memerintahku.

“Baik, Sir.“

Aku langsung pergi ke pantry untuk membuatkan kopi yang di pesan oleh orang tak tahu sopan santun itu. Apakah harus aku menambahkan garam ke dalam kopinya agar dia tidak macam-macam lagi padaku.

Setelah selesai aku langsung mengantarkan kopi itu ke ruangannya. Ketika aku akan kembali ke mejaku di luar lagi-lagi ia menghadang langkahku.

“Maaf Sir, tolong biarkan saya lewat karena masih banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan.“

“Tidak secepat itu, Nica.“
“Apa lagi yang anda inginkan dari saya, Sir?“

“Apa yang aku inginkan? Mau tahu Nica? Yang aku inginkan adalah KAU...!!!!“

Aku terkesiap mendengar perkataannya itu, “Maaf saya tidak mengerti apa maksud dari perkataan anda, Sir.“

“Jangan pura-pura tidak mengerti, Nica. Kau gadis yang pintar dan aku yakin kau mengerti dengan sangat jelas apa yang aku maksud.“

“Saya sungguh sungguh tidak mengerti apa yang anda katakan.“

“Jadilah kekasihku maka kau tak perlu susah susah untuk bekerja. Karena aku akan memenuhi semua kebutuhanmu.“

Mataku langsung melebar karena terkejut mendengar ucapannya itu. Apakah ada yang salah dengan otaknya? Dia pikir aku boneka yang bisa di perlakukan seenaknya. Meskipun aku tak memungkiri bahwa aku memang membutuhkan uang dalam jumlah yang besar untuk pengobatan Dad, sampai kapanpun aku takkan mau sampai menjual tubuh dan harga diriku pada pria seperti dia.

“Bagaimana? Penawaranku menarik bukan. Kau tidak perlu bekerja keras, cukup menjadi kekasihku kau akan mendapatkan apapun yang kau mau.“

“Tidak akan pernah, sampai kapanpun aku tidak akan pernah menuruti permintaan konyolmu itu, Sir. Anda memang tampan dan sangat berpendidikan tapi sayangnya moral anda sangat bejad. Jangan pernah samakan aku dengan wanita-wanita yang bisa dengan mudah menyerahkan dirinya pada anda dengan cara memohon.“

Medengar ucapanku ekspresi wajahnya langsung mengeras. Menahan amarah, mungkin aku telah melukai harga dirinya, dan aku tidak peduli sama sekali. Bahkan jika ia memecatku detik ini juga.

Ia langsung bergeser, tidak lagi menghalangi pintu. Aku buru-buru keluar dari ruangannya tanpa mengucapkan permisi.

Aku duduk di kursiku dengan marah. Kurang ajar, dia pikir aku wanita murahan yang akan takluk jika di berikan kemewahan. Salah jika ia menganggapku sama seperti wanita-wanita itu.

Aku mengatur nafasku untuk menenangkan diriku. Lalu aku langsung mengeluarkan sesuatu dari dalam tasku. Sebuah gelang dari perak dengan hiasan kupu-kupu kecil di sekelilingnya. Dan aku langsung teringat pada sebuah nama Freddy.

Meskipun sekarang aku tak tahu kau dimana dan wajahmu seperti apa. Aku akan tetap menunggumu kembali datang untuk menemuiku. Aku tak bisa melupakanmu sampai detik ini Fredd. Karena buatku kaulah cinta pertama dan terakhirku. Mengapa kau tak kunjung menemuiku, Fredd? Apakah kau sudah melupakan semua janji-janjimu dan melupakan aku. Yang bisa aku ingat hanya matamu yang berwarna biru laut, yang selalu meneduhkanku. Sejak kecelakaan lima tahun yang lalu aku benar-benar tidak bisa mengingat dirimu sepenuhnya...

BAB 3

“Lepaskan aku?“

“Tidak semudah itu Miss James, apalagi kau sudah berani menentangku di hari pertama kau masuk kerja.“

“Kalau begitu pecat saja aku. Aku tidak peduli.“

“Hati-hati dengan ucapanmu Miss James. Tidak akan semudah itu kau bisa keluar dari perusahaanku ini.“

Lagi-lagi Mark mengunci bibirku dan kali ini aku tidak bisa bergerak sedikitpun. Ia telah mengunci tubuhku ke dinding.

Sampai akhirnya ia melepaskanku sambil tersenyum senang. Aku langsung merapikan rambut dan pakaianku dan bergegas keluar dari ruangannya.

“Urusan kita belum selesai. Ingat itu Miss James.“

Kata-kata itulah yang aku dengar sebelum aku menutup pintunya.
Kurang ajar, dia pikir siapa dia bisa seenaknya memperlakukanku seperti itu. Ia memang seorang CEO muda yang tampan dan brengsek.

Ketika jam makan siang tiba aku melihatnya keluar dari ruangannya. Ia menatapku sekilas sambil tersenyum lalu pergi begitu saja.

Melihat wajahnya aku kembali teringat dengan perlakuannya padaku tadi. Dan tanpa sabar aku meremas kertas yang ada di mejaku. Kesal  dan marah, itulah perasaanku yang muncul ketika melihatnya.

Hari pertamaku bekerja benar-benar sangat buruk sekali. Mengapa aku harus mengalami hal seperti itu.

***

Aku melangkahkan kakiku keluar dan menyusuri jalan menuju ke stasiun. Aku sengaja berjalan lambat-lambat karena aku ingin memperbaiki moodku yang sudah rusak.

Tiba-tiba ada sebuah mobil Audi R8 berwarna hitam yang berhenti. Aku terkaget ketika kaca jendela di turunkan dan melihat sosok yang berada di dalamnya.

“Miss James cepat masuk.“

“Tidak akan dan jangan pernah berharap.“

Aku bersiap-siap untuk melanjutkan perjalananku.

“Cepat masuk atau aku akan menyuruh supirku menyeretmu masuk ke dalam mobil.“

“Dengar Sir, di kantor kau boleh memerintahku dengan leluasa. Tapi di luar jam kantor jangan harap bisa memerintahku seenaknya.“

Tak lama kemudian aku merasakan tangan yang kuat mengangkatku dan memasukanku kedalam mobil. Kejadiannya benar-benar sangat cepat sekali.

“Lihat, masih bisa menggunakan kekuasaanku padamu meskipun sedang berada di luar jam kantor.“

Suaranya menyadarkanku dari keterkagetanku.

“Kau mau apalagi? Masih tetap ingin memeberikanku sanksi atas kesalahanku dan sudah menentangmu?“

“Berhentilah, kau sudah banyak sekali bicara Miss James.“

Aku menggeram sambil menggertakan gigiku. Lalu ia menekan sebuah tombol yang berada di sampingnya. Kaca penghalang diantara bangku pengemudi yang berwarna hitam itu muncul.

“Apa yang akan kau lakukan? Mengapa kau mengeluarkan kaca penghalang sialan itu?“

“Karena kau sudah menggeram padaku Miss James.“

Lagi-lagi ia menciumku tanpa ampun. Tubuhnya yang kekar itu mengunci tubuhku.

Matanya yang berwarna biru itu menggelap. Nafasnya terengah-engah.

“Lepas... kan.. aku...“

Aku berusaha mengeluarkan perlawananku meskipun aku tahu aku takkan bisa melawannya.

“Tidak semudah itu Nica. Kau harus menjadi milikku.“ suara terdengar berat dan serak.

“Tidak akan pernah, aku tidak sudi untuk menjadi milikmu.“

“Jangan membantahku lagi, Nica.“

“Kau tidak berhak atas diriku.“

Ekspresi wajahnya mengeras, tatapan matanya tak bisa ku baca. Lalu ia kembali ke posisi duduknya yang semula. Membiarkanku yang terengah-engah.

“Cepat rapikan rambut dan pakaianmu. Sebentar lagi kita akan sampai di tempat tinggalmu Miss James.“

Dengan perasaan berkecamuk aku langsung merapikan rambut dan pakaianku. Lalu ia kembali menekan tombol yang sama untuk menghilangkan kembali kaca penghalangnya.

Selama sisa perjalanan ia terus terdiam. Ekspresi wajahnya benar-benar sangat kaku dan dingin. Benar-benar pria tampan yang menjengkelkan.

Lalu laju mobil melambat dan berhenti dengan perlahan tepat di depan apartemenku.

“Hati-hati Miss James.“

“Terima kasih Mr. Feehily.“

Aku langsung menghambur keluar dari dalam mobil dan  bergegas masuk ke dalam. Cepat-cepat aku mengambil kunci dalam tasku, setelah terbuka aku langsung masuk dan mengunci pintunya. Tak lama kemudian aku mendengar suara mobil yang makin lama makin menjauh.

Darimana ia tahu bahwa aku tinggal disini? Pertanyaan itulah yang langsung muncul dalam kepalaku ketika sudah berada di rumah.

Rabu, 28 November 2012

BAB 2

“Kau benar-benar tidak mengindahkan memo yang sudah aku berikan padamu, Miss James.“

“Tapi, Sir...“

“Dan sekarang kau membantahku?.Kau sudah terlambat dan sekarang yang kau lakukan adalah menentangku!!“

“Saya tidak bermaksud untuk menentang anda. Tapi hanya satu detik. Saya pikir itu tidak masuk akal, di dunia ini tidak ada yang sempurna.“

“Jelas-jelas kau sudah menentangku Miss James.“ aku memperhatikan wajahnya jadi mengeras. Tetap saja matanya tak terbaca.

“Saya mengaku salah. Jika anda tidak membutuhkan apa-apa lagi saya akan keluar.“

“Aku belum memintamu untuk keluar dari ruanganku Miss.“

Aku terkesiap ketika tangannya tiba-tiba menyentuh pipiku dan membelainya dengan lembut. Tubuhku tanpa diminta langsung memanas dan bergejolak seperti terkena aliran listrik.

Pandangannya tak pernah lepas menatapku. Mata birunya membakar diriku. Ya Tuhan, ada apa dengan pria tampan ini? Mengapa perangainya benar-benar buruk, tidak sesuai dengan wajahnya.

“Kau harus menerima sanksi karena sudah menentangku Miss James.“

Aku langsung melotot sambil membuka mulutku. Terkejut mendengar ucapnya yang ingin menghukumku dengan alasan yang tidak masuk akal.

“Tenang saja Miss James, aku takkan memberikan hukuman yang berat padamu. Biasanya aku selalu memberikan sanksi tanpa pandang bulu, dirimu sebagai pengecualian tentunya.“

“Apa maksud anda, Sir? Jika anda memang ingin memberikan hukuman pada saya silakan. Saya tidak takut sama sekali.“

“Hati-hati dengan ucapanmu itu Miss James.“

Aku sudah benar-benar muak dengan sikapnya yang mempermainkan aku seperti ini.

Tiba-tiba kedua lengannya memegang wajahku. Dalam keadaan terkejut tiba-tiba saja ia mendaratkan ciumannya di bibirku. Sontak aku berontak dan berusaha melepaskan diri, tapi cengkramannya begitu kuat dan membuatku tertahan.

Ia menciumku dengan begitu brutal. Menggigit bibir bawahku hingga aku bisa merasakan rasa darah. Lidahnya mendesak masuk kedalam mulutku dan membelai lidahku.

Aku mengerjap-ngerjap karena mulai merasakan kehabisan udara. Tapi ia tetap saja menciumku. Lengannya yang kuat mencengkramku erat.

Dengan nafas terengah aku berusaha melawan, “Lepaskan aku... Atau aku akan berteriak.“

“Silakan saja berteriak sampai suaramu habis. Tidak akan ada yang mendengar dan melihat kita disini.“ suaranya terdengar bergetar dan nafasnya terengah.

Ia kembali menciumku dengan begitu intens. Membuat perutku terasa bergelung-gelung dan rasa panas di antara kedua pahaku.

“Kau menyukainya bukan?“

“Tidak, lepaskan aku sekarang.“

Lalu dengan perlahan lengannya menyenyuh bagian yang paling sensitif di antara kedua pahaku.

Senyum kemenangan tersirat di wajah tampannya, “Kau tidak bisa membohongiku, kau begitu menikmatinya. Lihat kau sudah basah untukku Miss James.“

Ia berkata sambil terus menerus menyentuhnya. Membuat kupu-kupu berterbangan di kepalaku dan membuat perutku semakin bergelung-gelung.

BAB 1

Senin pagi aku tergesa-gesa masuk ke dalam kantor. Karena aku hampir terlambat masuk di hari pertamaku kerja di perusahaan ini.

“Selamat pagi Sue“ sapaku sambil buru-buru menuju mejaku. Sue adalah salah satu resepsionis di perusahaan ini. Jika ada yang ingin bertemu dengan bossku ia harus melewati Sue dulu, karena di perusahaan ini memiliki dua orang resepsionis di lantai satu dan di lantai 20.

Buru-buru aku duduk di meja kerjaku dan menyimpan tasku. Lalu aku melihat ada setumpuk map di atas mejaku dengan catatan di atasnya.

Aku ingin semua laporan ino selesai. Berikan padaku 10 menit sebelum jam makan siang tiba. Jangan terlambat, karena aku tidak menyukai keterlambatan meskipun 1 detik!!!!!

Ya ampun, aku langsung mendapatkan tugas yang cukup banyak dan harus aku selesaikan 10 menit sebelum jam makan siang. Ya Tuhan, semoga aku bisa menyelesaikannya.

“Baiklah, ayo kita kerjakan tugas-tugas ini. Kau pasti bisa Nica.“ Aku menarik nafas dalam-dalam lalu mulai mengerjakan laporan-laporan itu.

Aku langsung tenggelam dalam pekerjaanku. Ketika melirik jam yang terpasang di lengan kiriku aku langsung memberekan map-map itu. Aku memeriksanya kembali sebelum beranjak menuju ke ruangan bossku.

Entah mengapa aku merasa sangat gugup sekali. Apalagi menurut kabar yang beredar di sini Mr. Feehily seorang yang sangat dingin dan tidak mengenal ampun jika ada salah satu pegawainya yang melakukan kesalahan.

Aku mengambil nafas dalam-dalam lalu mengetuk pintu ruangan Mr. Feehily..

“Masuk.“ suara yang datar dan dingin terdengar dari dalam.

“Permisi, Sir. Ini laporan yang anda minta sudah saya selesaikan.“ entah mengapa suaraku terdengar bergetar.

Dengan perlahan aku meletakan tumpukan map tersebut di atas mejanya. Ia tidak berkata apa-apa, matanya yang biru tak terjamah itu menatapku lekat-lekat. Seperti seorang predator yang kelaparan. Ekspresinya tidak terbaca. Apakah aku sudah melakukan kesalahan? Rutukku dalam hati.

“Sir, apa ada lagi yang harus saya kerjakan?“ tanyaku dengan ragu.

Ia masih saja menatapku dengan mata birunya yang berapi-api.

“Miss James kau terlambat. Apakah kau tidak membaca memo yang aku tulis?“

Apa? Aku terlambat? Bagaimana bisa? Aku sudah menyerahkan laporannya tepat waktu.

“Maaf, apa maksud anda, Sir? Saya sudah menyerahkannya sesuai dengan permintaan anda.“

“Kau terlambat 1 detik Miss James.“ ia berdiri, berputar dan men dekatiku.
“Tapi hanya 1 detik, Sir. Aku tidak melakukan kesalahan yang fatal, bukan?“

Lighter And The Darkness (PROLOG)

Anica Rose Alison James adalah seorang gadis cantik yang memutuskan untuk mengadu nasib ke London setelah lulus kuliah di Liverpool.

Setelah mencari pekerjaan kesana kemari akhirnya Nica diterima bekerja di FEEHILY ENTERPRISE INC sebuah perusahaan multinasional yang sangat bonafit di London. Sebelumnya Nica tidak pernah menyangka akan mendapatkan pekerjaan di perusahaan itu. Bahkan Nica menenpati posisi sebagai asisten pribadi sang CEO.

Mark Michael Patrick Feehily, seorang CEO tampan yang memimpin FEEHILY ENTERPRISE INC ini termasuk seorang yang gila kontrol dan sangat dingin sekali. Dengan kekuasaan dan kekeyaan yang dimilikinya ia terbiasa mendapatkan apapun yang diinginkannya.

Mark yang terbiasa mengontrol orang-orang sekitarnya harus melakukan hal yang tidak biasa ia lakukan ketika bertemu dengan Nica asisten pribadinya yang baru. Nica tidak pernah menuruti perintah Mark apalagi jika perintah yang di berikan itu menurut Nica tidak masuk akal.

Begitupun dengan Nica. Emosinya jadi sering meledak-ledak untuk menghadapi atasannya yang arogan dan gila control itu. Terlebih lagi ketika Mark memintanya untuk melakukan sesuatu yang tak pernah Nica pikirkan sebelumnya.

Semakin lama mereka berdua terikat bukan hanya dalam urusan pekerjaan. Tetapi dalam urusan hati.

Akankah mereka berdua menyadari benih-benih cinta yang sudah mulai tumbuh di antara mereka berdua???