Aku langsung sadar, bahwa tak ada yang tak mungkin bagi seorang Mark Feehily. Dia pasti bisa dengan mudah mendapatkan informasi tentangku.
Aku masuk ke dalam kamar dan melempar tasku ke lantai. Lalu aku masuk ke dalam kamar mandi.
Mengisi bathub dengan air hangat, masukan sabun cair dan wewangin ke dalamnya. Lalu aku menanggalkan semua pakaianku dan masuk ke dalamnya.
Hangatnya air membuatku merasa lebih rileks. Hari yang benar-benar melelahkan, sangat menguras tenaga dan emosi.
Aku begitu menikmati berendam di dalam bathtub dengan air hangat. Kerutan di jari-jariku mengharuskan aku untuk segera menyelesaikannya.
Aku memakai celana pendek dan sebuah tank top untuk tidur setelah mengeringkan tubuhku. Sambil mengeringkan rambutku aku duduk di depan tv.
***
“Hei, Freddy kau janji ya jika sudah dewasa nanti kau akan pergi mencariku ..“
“Tentu saja ChaCha, kita akan terus bersama-sama selamanya..“
Kata-kata itulah yang selalu terngiang dalam kepalaku. Setelah sekian lama mencari akhirnya aku menemukan cinta pertama di masa kecilku itu. Aku bersumpah akan selalu menjaganya meskipun dengan nyawaku sekalipun.
Sekarang aku bisa berada dekat dengan cinta pertamaku itu. Ia menjelma menjadi seorang wanita yang sangat cantik dan tetap keras kepala dan tidak mudah di perintah.
Namun sayang aku tidak memiliki keberanian untuk mengungkapkan siapa diriku sebenarnya. Biarlah ia membenciku dengan sifatku yang seperti ini. Karena aku ingin ia menerimaku dengan segala kekurangan yang aku miliki ini.
***
Aku pergi ke kantor dengan malas. Ya, aku malas jika harus bertemu dengan CEO yang tidak punya sopan santun itu.
“Pagi Nica, kau terlihat sedikit pucat apa kau baik-baik saja?“
“Pagi Sue, aku tidak begitu baik sebenarnya.“
“Kau harus sabar ya Mr. Feehily memang seperti itu.“
“Terima kasih sudah memperingatkanku, Sue. Aku harus segera menuju ke meja kerjaku.“
Aku segera duduk di kursiku dan menyalakan komputer.
“Buatkan aku kopi dan segera antarkan ke ruanganku.“
Tiba-tiba orang tak tahu sopan santun itu datang dan langsung memerintahku.
“Baik, Sir.“
Aku langsung pergi ke pantry untuk membuatkan kopi yang di pesan oleh orang tak tahu sopan santun itu. Apakah harus aku menambahkan garam ke dalam kopinya agar dia tidak macam-macam lagi padaku.
Setelah selesai aku langsung mengantarkan kopi itu ke ruangannya. Ketika aku akan kembali ke mejaku di luar lagi-lagi ia menghadang langkahku.
“Maaf Sir, tolong biarkan saya lewat karena masih banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan.“
“Tidak secepat itu, Nica.“
“Apa lagi yang anda inginkan dari saya, Sir?“
“Apa yang aku inginkan? Mau tahu Nica? Yang aku inginkan adalah KAU...!!!!“
Aku terkesiap mendengar perkataannya itu, “Maaf saya tidak mengerti apa maksud dari perkataan anda, Sir.“
“Jangan pura-pura tidak mengerti, Nica. Kau gadis yang pintar dan aku yakin kau mengerti dengan sangat jelas apa yang aku maksud.“
“Saya sungguh sungguh tidak mengerti apa yang anda katakan.“
“Jadilah kekasihku maka kau tak perlu susah susah untuk bekerja. Karena aku akan memenuhi semua kebutuhanmu.“
Mataku langsung melebar karena terkejut mendengar ucapannya itu. Apakah ada yang salah dengan otaknya? Dia pikir aku boneka yang bisa di perlakukan seenaknya. Meskipun aku tak memungkiri bahwa aku memang membutuhkan uang dalam jumlah yang besar untuk pengobatan Dad, sampai kapanpun aku takkan mau sampai menjual tubuh dan harga diriku pada pria seperti dia.
“Bagaimana? Penawaranku menarik bukan. Kau tidak perlu bekerja keras, cukup menjadi kekasihku kau akan mendapatkan apapun yang kau mau.“
“Tidak akan pernah, sampai kapanpun aku tidak akan pernah menuruti permintaan konyolmu itu, Sir. Anda memang tampan dan sangat berpendidikan tapi sayangnya moral anda sangat bejad. Jangan pernah samakan aku dengan wanita-wanita yang bisa dengan mudah menyerahkan dirinya pada anda dengan cara memohon.“
Medengar ucapanku ekspresi wajahnya langsung mengeras. Menahan amarah, mungkin aku telah melukai harga dirinya, dan aku tidak peduli sama sekali. Bahkan jika ia memecatku detik ini juga.
Ia langsung bergeser, tidak lagi menghalangi pintu. Aku buru-buru keluar dari ruangannya tanpa mengucapkan permisi.
Aku duduk di kursiku dengan marah. Kurang ajar, dia pikir aku wanita murahan yang akan takluk jika di berikan kemewahan. Salah jika ia menganggapku sama seperti wanita-wanita itu.
Aku mengatur nafasku untuk menenangkan diriku. Lalu aku langsung mengeluarkan sesuatu dari dalam tasku. Sebuah gelang dari perak dengan hiasan kupu-kupu kecil di sekelilingnya. Dan aku langsung teringat pada sebuah nama Freddy.
Meskipun sekarang aku tak tahu kau dimana dan wajahmu seperti apa. Aku akan tetap menunggumu kembali datang untuk menemuiku. Aku tak bisa melupakanmu sampai detik ini Fredd. Karena buatku kaulah cinta pertama dan terakhirku. Mengapa kau tak kunjung menemuiku, Fredd? Apakah kau sudah melupakan semua janji-janjimu dan melupakan aku. Yang bisa aku ingat hanya matamu yang berwarna biru laut, yang selalu meneduhkanku. Sejak kecelakaan lima tahun yang lalu aku benar-benar tidak bisa mengingat dirimu sepenuhnya...