Sabtu, 08 Maret 2014

BAB 6

MARK

Sialan. Apa yang sudah aku lakukan? Mengapa aku sampai tidak bisa mengendalikan diriku sendiri? Ya Tuhan, sudah bisa di pastikan Anica akan membeciku. Sangat membenciku. Terkutuklah atas semua sifat bajinganmu itu Mark, makiku dalam hati. Sedangkan mataku menerawang menatap pemandangan sepanjang perjalanan menuju ke penthouse milikku. Pikiranku di penuhi oleh kilasan-kilasan yang terjadi tadi pagi di tempat Nica.

Semenjak Anica muncul dan bekerja di perusahaanku, dengan bertahap aku meninggalkan semua kebiasaan burukku satu persatu. Aku menjauhi semua wanita yang selalu menemani malam-malamku dan melalukan aktifitas yang sangat panas di atas ranjang.

I'm still alive but I'm barely breathing
Just prayin' to a God that I don't
believe in
'Cause I got time while she got freedom
'Cause when a heart breaks, no, it
don't break even

What am I supposed to do when the
best part of me was always you?
And what am I supposed to say when
I'm all choked up and you're OK?
I'm falling to pieces, yeah,
I'm falling to pieces

Namun kini semua itu sudah tidak aku lakukam kembali. Karena membuat Nica mengingat kembali semua ingatannya tentang masa lalu kami menjadi prioritas utamamu. Mengabaikan tubuhku menuntut untuk segera mendapatkan pelepasannya. Dan lagi-lagi aku berusaha mati-matian untuk menahan segala gejolak dalam hatiku.

Anica Rosse, hanya nama itulah yang sanggup mecuri semua perhatianku. Memporak porandakan hatiku dan membuat duniaku jungkir balik. Perasaan yang tubuh ketika aku masih kecil kepada Nica ternyata bertahan hingga saat ini, bahkan perasaan itu kini semakin besar.

Perasaan yang aku kira hanya cinta monyet, mengingat usia kami pada saat itu yang masih kecil. Ternyata aku salah, perasaan ini bukan perasaan main-main sesaat. Perasaan ini semakin lama semakin besar dan semakin kuat. Walaupun aku tak menampik selama ini sering kali bermain dengan berbagai wanita. Tapi semua itu hanya untuk satu malam saja.

Tak ada keinginan sedikitpun untuk menjalin suatu hubungan atau komitmen dengan wanita-wanita yang telah tidur denganku. Karena bagiku hanya Anica satu-satunya wanita yang pantas untuk di cintai. Hanya dengannya aku ingin berkomitmen dan membangun sebuah keluarga.

Aku merasa hancur ketika wanita yang aku cintai tak mengingat bahkan mengenalku sedikitpun. Sempat ada perasaan marah dan ingin melakukan pembalasan. Namun semua niat itu luruh seketika, saat aku mengetahui penyebab Nica tak mengingatku sedikitpun. Ternyata Nica mengalami sebuah kecelakaan yang hampir merenggut nyawanya. Meskipun berhasil di selamatkan efek dari benturan kesar di kepalanya itu menyebabkan Nica kehilangan sebagian memorinya.

Alasan itulah yang membuatku mengurungkan semua niat jahatku. Aku ingin Nica kembali mengingatku, tanpa harus membuatnya kesakitan karena di paksakan untuk mengingat hal-hal yang hanya akan membuatnya kesakitan. Karena menurut salah satu dokter yang sempat menanganinya mengatakan bahwa Nica tidak bisa di paksakan untuk mengingat kembali semua memorinya yang hilang, karena semua itu bisa membuat keadaannya kembali memburuk.

Nica, akulah Frieddie. Apakah kau tidak merasakan kehadiranku di sampingmu? Tak bisakah kau merasakanku walai hanya sedikit saja? Kau tahu, aku benar-benar terluka melihatmu seperti ini. Meskipun aku tahu semua ini terjadi bukan kehendakmu.

Namun di lain sisi aku merasa ketakutan, takut karena tak tahu sampai kapan bisa bersabar menunggu Nica kembali mengingatku? Takut karena Nica akan melupakanku selamanya. Takut suatu hari ini aku akan menyerah dan lebih memilih pergi untuk membiarkan Nica dengan kehidupannya yang baru.

Entahlah pikiranku saat ini benar-benar kacau, dan yang menyebabkan semua ini adalah satu orang. Anica. Aku juga tak boleh melupakan satu hal yang penting ini. Aku harus berhati-hati dan selalu mengawasi Nica. Karena jika para pesaing bisnisku tahu bahwa Nica adalah kelemahanku yang paling utama, maka sudah bisa di pastikan bahwa nyawanya akan terancam.

Dengan tergesa aku segera menghubungi salah satu orang kepercayaanku. Aku memerintahkan untuk melakukan pengawasan dan penjagaan kepada Nica tanpa sepengetahuannya sedikitpun.

Satu kesalahan terbesarku saat mulai merintis kerajaan bisnisku adalah melakukan kerjasama dengan beberapa mafia yang tersebar di daratan Eropa. Dan dengan kehadiran Nica tak menutup kemungkinan orang-orang yang ingin menjatuhkanku pasti akan memakai jasa para mafia itu untuk menyerangku. Aku sangat tahu permaianan kotor seperti apa yang terjadi di dunia bisnis sekarang ini.

Nica... Apa yang harus aku lakukan? Agar kau bisa kembali mengingatku, aku benar-benar menderita. Karena kau begitu jauh, aku memang bisa mrnyentuh tubuhmu tapi aku tak bisa menyentuh hatimu.

Sesampainya di penthouse aku langsung membersihkan tubuhku. Masih terasa dengan jelas panas dan lembutnya bibir Nica di bibirku. Bibirnya yang menjadi canduku. Dengan gusar aku memaksakan kedua mataku untuk terpejam. Kejadian hari ini benar-benar menguras seluruh tenagaku.

***

ANICA

Aku hanya terduduk lemas di bawah guyuran air di kamar mandi. Tuhan, apa salahku? Mengapa atasanku sampai melecehkanku sampai seperti ini? Harga diriku sebagai seorang wanita benar-benar sudah hancur. Aku kotor, menjijikan, aku membenci tubuhku karena atasanku telah menjamah seluruh tubuhku.

Aku berteriak frustasi dengan air mata yang terus menerus turun dan bercampur dengan air yang mengguyur seluruh tubuhku. Andai saja Dad benar-benar sehat, aku akan dengan senang hati mengundurkan diri dari perusahan terkutuk itu. Terlepas dari cengkraman atasanku yang sangat sialan itu. Andai saja kecelakaan itu tidak membuat Dad mengalami kelumpuhan.

Namun semua telah terjadi. Aku tak bisa memutar kembali waktu yang telah lewat. Meskipun aku sangat ingin kembali ke masa lalu dan mengingat semua hal. Perasaan kosong di dalam hatiku ini tentu saja takkan membuatku merasakan kehilangan yang begitu menyesakan.

Rasa kekosongan yang aku tak tahu apa penyebabnya. Karena aku tak bisa mengingatnya sedikitpun. Freddie. Hanya nama itulah yang aku ingat, namun tak ada sedikitpun memori tentangnya yang aku ingat. Aku merasa bahwa nama itu benar-benar sangat akrab dan dekat denganku. Aku merindukan Freddie, seseorang yang tak kuingat sosoknya.

Freddie. Freddie. Freddie. Hanya nama itulah satu-satunya yang menjadi petunjuk bagiku. Dan yang menjadi masalah adalah aku harus memulai pencarian darimana? Apakah aku harus kembali ke kota kelahiranku untuk menyelidikinya? Ah, aku benar-benar bingung.

Puas berlama-lama di bawah shower aku langsung keluar dan segera mengeringkan tubuhku kemudian berpakaian. Aku merasa lelah, kelelahan secara emosinal dan semua itu di sebabkan oleh pria kurang ajar itu. Demi Tuhan, apa yang harus aku lakukan untuk menghindari kontak dengannya?

Mataku menerawang menatap langit-langit kamarku. Berbagai bayangan berkelebatan di depanku, namun aku tak bisa mengingatnya. Hingga akhirnya aku tertidur karena kelelahan.

Suara ketukan yang cukup keras langsung membuatku terjaga dari tidurku. Dengan kepala yang sedikit pusing aku memaksakan diri untuk bangun dan beranjak ke depan. Perlahan aku membuka pintu rumahku dan melihat seorang pengantar pizza di depanku. Meskipun bingung karena tak pernah memesan pizza sebelumnya aku terima saja tanpa merasa curiga sedikitpun, karena perutku terasa perih.

Ternyata sejak pagi aku belum memakan apapun meskipun sedikit. Apalagi di luar langit telah berubah menjadi gelap, pantas saja jika aku merasa sangat lapar. Setelah mengambil satu gelas besar jus jeruk aku duduk di atas sofa sambil menonton acara tv kesukaanku dan menikmati pizza yang masih panas ini. Hmmm, membuat perutku semakin lapar dan minta segera di isi.

Aku menggigit potongan pizza itu besar-besar, membuat kedua pipiku menggembung karena mulutku yang terisi penuh. Malam itu aku menghabiskan hampir tiga perempat loyang pizza berukuran besar sendirian. Inilah yang akan aku lakukan jika sedang ingin melupakan sesuatu, kali ini jelas dan sangat wajar karena aku ingin melupakan kejadian tadi pagi.

Aku benar-benar merasa kekenyangan. Hingga tiba-tiba saja tenggorokannku terasa begitu panas. Panasnya seperti terbakar, dengan panik aku meminum jus jeruk yang tinggal setengahnya hingga tandas. Namun rasa panas itu tak kunjung hilang, malah semakin panas. Dengan tertatih-tatih aku berjalan ke arah dapur dan langsung menenggak sebotol air putih dingin. Tapi rasanga tetap saja panas.

Rasa panas itu kini menjalar keseluruh tubuhku. Ya Tuhan, apa yang sebenarnya terjadi padaku? Mengapa rasanya sangat panas dan menyakitkan sekali. Aku bersadar di depan kulkas, tubuhku semakin merosot ke lantai. Tiba-tiba kegelapan datang dan menelanku.

Minggu, 12 Januari 2014

BAB 5

Kau benar-benar menghilang bagai di telan bumi Fredd. Atau bahkan yang sebenarnya adalah kau ada di sekitarku namun aku tak menyadarinya karena karena sebaguan memoriku yang entah kapan kembali lagi.

Andai kau ada di sini Fredd, kau pasti akan melindungiku dari atasku yang tampan tapi sangat menyebalkan dan mesum itu. Tapi aku bisa apa? Mengundurkan diri dari perusahaannya sangat tak mungkin. Karena aku sangat membutuhkan uang untuk biaya pengobatan Dad. Hanya akulah harapan mereka untuk menopang perekonomian keluarga.

Tuhan, apa yang harus aku lakukan? Tak mungkin aku diam dan membiarkan atasanku itu berbuat semena-mena kepadaku. Aku harus menghentikan sikapnya yang tidak beradab itu. Tapi bagaimana caranya? Apa yang harus aku lakukan?

Aku terpekur lama sambil memegangi gelang perak itu. Sampai akhirnya aku menghela nafas dalam-dalam dan memutuskan untuk fokus pada pekerjaan yang menunggu untuk aku kerjakan. Mungkin dengan menyibukkam diri aku bisa melupakan kejadiam di dalam ruangan Mr. Mark tadi.

Fiuh, kau pasti bisa melakukannya Anica. Kau bisa, aku menyemangati diriku sendiri. Setelah meletakkan kembali gelang itu ke dalam tas, aku mulai memusatkan pikiranku untuk fokus pada pekerjaan yang sudah menumpuk di ataa meja.

Menyibukan diri dengan pekerjaan ternyata cukup ampuh. Setidaknya pikiranku bisa terbebas dari kejadian tadi dan Mr. Mark, meskipun hanya sementara waktu. Aku terus menerus berkutat dengan layar komputerku, bahkan aku lupa bahwa sekarang sudah saatnya jam kantor berakhir.

"Astaga, ternyata sudah pukul enam lewat tiga puluh menit. Bagaimana bisa aku tidak menyadarinya. Aku benar-benar sudah sangat terlambat sekali untuk pulang." Gumamku sambil mengedarkan pandanganku ke sekeliling.

Dan dengan terburu-buru aku segera mematikan layar komputer dan membereskan meja kerjaku. Setelah itu aku segera bergegesa pergi meninggalkan gedung. Sepanjang perjalanan menuju ke halte bis aku terus-menerus bergumam di dalam hati. Karena aku takkan mungkin bisa mendapatkan bis untuk pulang.

Karena aku tahu bahwa bis terakhir baru saja berangkat setengah jam yang lalu. Jadi di sinilah aku berada, duduk termenung di halte. Berharap akan asa sebuah keajaiban, oke mungkin terlalu berlebihan. Aku hanya berharap ada sebuah taksi yang lewat, agar aku bisa segera pulang ke rumah kontrakkanku yang mungil dan nyaman. Hari ini benar-benar hari yang sangat melelahkan.

Aku menyandarkan kepalaku pada tiang yang ada halte. Sedangkan tanganku mencengkram erat tas dalam pangkuanku. Sudah hampir satu jam aku menunggu di sini. Namun tak ada satupun kendaraan yang lewat. Haruskah aku berjalan kaki menuju ke tempat tinggalku? Aku tak yakin sanggup menempuh jarak sejauh itu.

Angin malam berhembus semakin kencang, rasanya begitu menggigit kulitku. Rasa dinginnya terasa menusuk ke tulang belulang di sekujur tubuhku. Hingga tiba-tiba saja rasa kantuk karena kelelahan menyerangku tanpa ampun. Berulang kali aku berusaha untuk tetap membuka kedua kelopak mataku, tapi sia-sia. Karena kedua kelopak mataku teramat sangat berat. Akhirnya aku menyerah.

Keesokan harinya aku terbangun dengan perasaan yang cukup membingungkan. Karena tubuhku terasa sangat hangat dan aku meniduri tempat yang sangat empuk sekali.

Berkali-kali aku mengerjapkan mataku sambil mengedarkan pandangan ke sekelilingku. Kamarku, ya aku saat ini sudah berada di rumahku. Tapi bagaimana bisa? Yang aku ingat bahwa aku sedang menunggu kendaraan untuk pulang tadi malam.

Aku menggeliat di balik selimutku yang nyaman dan hangat. Rasanya aku enggan sekali untuk beranjak dari tempat tidurku. Meskipun hari ini adalah hari Sabtu aku tidak terbiasa tidur hingga siang.

Setidaknya aku harus melakukan sesuatu seperti membersihan rumah sebelum kembali begelung di atas tempat tidur kesayanganku. Karena tidur setelah beraktifitas benar-benar sangat nyaman sekali.

Perlahan-lahan aku menyingkirkan selimut yang membungkus tubuhku. Lalu aku bangun dan melakukan sedikit peregangan, agar otot-otot tubuhku tidak terlalu kaku. Setelah itu aku langsung bergegas masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhku. Apalagi aku masih mengenakan pakaian kerjaku.

Setelah ritual membersihan diri dan berpakaiam selesai aku merasa jauh lebih segar. Lalu aku langsung membereskan tempat tidurku. Setelah selesai aku keluar dan berniat untuk membersihkan ruang tamuku.

Namun ada sesuatu yang membuat jantungku tiba-tiba menjadi berdetak lebih cepat. Perasaan takut pun akhirnya mempengaruhiku. Di sana di atas sofa ada seseorang yang tertidur di sana.

Dengan perlahan-lahan aku berjalan mendekati sofa yang ada di ruang tamu. Terdengar dengkuran halus yang berasal dari seseorang yang sedang tertidur di sofaku. Aku langsung melompat mundur dan menabrak meja ketika melihat siap yang tengah bergelung ria di sofaku itu.

Karena kegaduhan yang kubuat pria menyebalkan itu akhirnya membuka matanya. Wajahnya terlihat masih mengantuk dan sangat kelelahan. Sepertinya ia tidak merasa nyaman tidur di sofa yang kecil itu.

"Kau... Apa yang kau lakukan di rumahku?" Kata-kata itulah yang berhasil meluncur dari mulutku setelah aku berhasil menenangkan diriku.

Pria menyebalkam itu tidak langsung menjawab pertanyaanku, melainkan meregangkan tubuhnya sambil sesekali menguat dan mengucek matanya yang masih terlihat mengantuk itu.

"Jadi beginikah caramu berterima kasih pada pria yang telah menolongmu semalam?" Ungkapnya sambil berdiri dan mulai berjalan mendekatiku.

Secara relfeks aku berjalan mundur untuk menjaga jarak darinya. Aku terlonjak kagey ketika tubuhku menabrak tembok. Seketika itu pula dia langsung mengungkung tubuhku dengan tubuhnya.

"Mau apa kau?" Tanyaku sambil tetap mempertahankan suaraku yang datar. Meskipun jantungku saat ini berdetak dengan sangat cepat sekali.

"Sesuatu yang hangat dan manis di pagi hari tentu saja. Seperti..." dia menggantung kata-katanya. Matanya yang biru menatapku dengan begitu tajam. Lagi-lagi membuatku tersesat di dalam sana. Anehnya aku merasa sangat familiar sekali dengan tatapannya.

Tepat sebelum mulutku kembali mengeluarkan protes. Bibirnya yang panas langsung mengunciku, lidahnya yang kasar langsung menelusup masuk. Mencecap dan mengeksplorasi semua sudut rongga mulutku. Lidahnya terus menerus menginfasi mulutku.

Membuat kepalaku pening, kedua kakiku mulai lemas seperti jelly. Memaksaku untuk membalas setiap.ciumannya. Otakku berusaha keras untuk melakukan perlawan namun ternyata tubuhku mengkhianatiku.

Tubuhku malah semakin menginginkannya. Kedua tanganku langsung melingkari lehernya yang kokoh. Ciuman-ciuman itu kini berubah menjadi semakin panas dan semakin liar. Mr. Mark mencium tanpa jeda dan tidak memberiku kesempatan untuk mengambil nafas.

Hingga akhirnya ia menarik dirinya dan membiarkanku terengah-engah. Aku pikir Mr. Mark akan melepaskanku tapi ternyata ia malah melayangkan tangannya tepat di puncak dadaku dan mulai meremasnya dengan perlahan, membuatku merintih tertahan. Demi Tuhan, aku tidak pernah mengalami perlakuan seperti ini dari siapapun.

Aku berusaha untuk menolak setiap rangsangan yang di lancarkannya pada tubuhku dengan bertubi-tubi. Rasanya seperti aja aliran listrik yang mengaliri tubuhku dan semuanya berkumpul di bagian pusat diriku. Semua rasa panas itu berkumpul di sana.

Aku harus melawannya, aku tidak boleh membiarkannya leluasa untuk melakukan pelecehan padaku. Di sela-sela usahaku untuk melawannya, aku bisa merasakan tangannya menyusup ke dalam celana pendek yang kupakai.

"Teruslah melawanku Nica, sekeras apapun kau menolakku tubuhmu berlaku sebaliknya. Tubuhmu ingin di sentuh olehku." Bisiknya sambil terus menggesek-gesekkan tangannya di bagian sensitifku.

"Ugh..." astaga apakah suara itu keluar dari mulutku? Benar-benar sangat memalukan sekali, aku merutuki diriku sendiri.

Sedangan Mr. Mark yang menyebalkan itu terlihat begitu puas dengan senyuman di yang tersinggung di bibirnya melihat reaksiku yang mulai di kuasai oleh gairah yang tak pernah aku rasakan sebelumnya.

Mataku mengerjap dengan nafas tersengal, berusaha entah untuk yang keberapa kalinya melawan hasrat yang terlah berhasil dia bangun. Sensasi yang aku rasakan ini benar-benar sangat menyiksaku. Otot-otot di sekitar perutku mengejang, seperti terdapat ribuan kupu-kupu yang siap mengepakkan sayapnya di sana.

"Kau begitu menikmati permainanku, sayang." Lagi-lagi ia berbisik di telingaku. Dan entah mengapa suaranya terdengar begitu sangat menggoda sekali.

Tubuhku mulai mengejang, namun Mr. Mark masih tidak berniat untuk menghentikan siksaannya kepadaku. Semakin lama tubuhku semakin bergetar hebat, rasanya aku akan meladak di bagian puasat diriku.

"Hen-ugh... hentikan...ahh..." racauku sambil tetap berusaha menahan diriku.

"Tidak akan sayang, aku tidak akan berhenti secepat itu. Sudahkah aku mengatakan bahwa aku tidak akan melepaskan begitu saja sesuatu yang benar-benar aku inginkan." Ucapnya dengan suara berat.

Hingga akhirnya tubuhku kembali mengejang dan bergetar dengan hebatnya. Ledakan kenikmatan yang tak aku kehendaki sebelumnya akhirnya meledak sudah. Di tengah euforia itu aku merasakan tubuhku lemas, seluruh tenagaku terkuras habis. Saat tubuhku mulai meluruh ke lantai dengan sigap Mr. Mark langsung membawa tubuhku ke dalam pelukannya.

Ia lalu berjalan menuju ke kamarku, sedangkan aku hanya bisa terkulai lemas dalam gendongannya dengan mata yang tertutup. Seluruh tenagaku sudah terkuras habis untuk melakukan perlawanan.

Suatu hari nanti aku pasti akan membalas semua perlakuannya ini. Aku tidak akan membiarkannya kembali melakukan pelecehan kepadaku.