MARK
Sialan. Apa yang sudah aku lakukan? Mengapa aku sampai tidak bisa mengendalikan diriku sendiri? Ya Tuhan, sudah bisa di pastikan Anica akan membeciku. Sangat membenciku. Terkutuklah atas semua sifat bajinganmu itu Mark, makiku dalam hati. Sedangkan mataku menerawang menatap pemandangan sepanjang perjalanan menuju ke penthouse milikku. Pikiranku di penuhi oleh kilasan-kilasan yang terjadi tadi pagi di tempat Nica.
Semenjak Anica muncul dan bekerja di perusahaanku, dengan bertahap aku meninggalkan semua kebiasaan burukku satu persatu. Aku menjauhi semua wanita yang selalu menemani malam-malamku dan melalukan aktifitas yang sangat panas di atas ranjang.
I'm still alive but I'm barely breathing
Just prayin' to a God that I don't
believe in
'Cause I got time while she got freedom
'Cause when a heart breaks, no, it
don't break even
What am I supposed to do when the
best part of me was always you?
And what am I supposed to say when
I'm all choked up and you're OK?
I'm falling to pieces, yeah,
I'm falling to pieces
Namun kini semua itu sudah tidak aku lakukam kembali. Karena membuat Nica mengingat kembali semua ingatannya tentang masa lalu kami menjadi prioritas utamamu. Mengabaikan tubuhku menuntut untuk segera mendapatkan pelepasannya. Dan lagi-lagi aku berusaha mati-matian untuk menahan segala gejolak dalam hatiku.
Anica Rosse, hanya nama itulah yang sanggup mecuri semua perhatianku. Memporak porandakan hatiku dan membuat duniaku jungkir balik. Perasaan yang tubuh ketika aku masih kecil kepada Nica ternyata bertahan hingga saat ini, bahkan perasaan itu kini semakin besar.
Perasaan yang aku kira hanya cinta monyet, mengingat usia kami pada saat itu yang masih kecil. Ternyata aku salah, perasaan ini bukan perasaan main-main sesaat. Perasaan ini semakin lama semakin besar dan semakin kuat. Walaupun aku tak menampik selama ini sering kali bermain dengan berbagai wanita. Tapi semua itu hanya untuk satu malam saja.
Tak ada keinginan sedikitpun untuk menjalin suatu hubungan atau komitmen dengan wanita-wanita yang telah tidur denganku. Karena bagiku hanya Anica satu-satunya wanita yang pantas untuk di cintai. Hanya dengannya aku ingin berkomitmen dan membangun sebuah keluarga.
Aku merasa hancur ketika wanita yang aku cintai tak mengingat bahkan mengenalku sedikitpun. Sempat ada perasaan marah dan ingin melakukan pembalasan. Namun semua niat itu luruh seketika, saat aku mengetahui penyebab Nica tak mengingatku sedikitpun. Ternyata Nica mengalami sebuah kecelakaan yang hampir merenggut nyawanya. Meskipun berhasil di selamatkan efek dari benturan kesar di kepalanya itu menyebabkan Nica kehilangan sebagian memorinya.
Alasan itulah yang membuatku mengurungkan semua niat jahatku. Aku ingin Nica kembali mengingatku, tanpa harus membuatnya kesakitan karena di paksakan untuk mengingat hal-hal yang hanya akan membuatnya kesakitan. Karena menurut salah satu dokter yang sempat menanganinya mengatakan bahwa Nica tidak bisa di paksakan untuk mengingat kembali semua memorinya yang hilang, karena semua itu bisa membuat keadaannya kembali memburuk.
Nica, akulah Frieddie. Apakah kau tidak merasakan kehadiranku di sampingmu? Tak bisakah kau merasakanku walai hanya sedikit saja? Kau tahu, aku benar-benar terluka melihatmu seperti ini. Meskipun aku tahu semua ini terjadi bukan kehendakmu.
Namun di lain sisi aku merasa ketakutan, takut karena tak tahu sampai kapan bisa bersabar menunggu Nica kembali mengingatku? Takut karena Nica akan melupakanku selamanya. Takut suatu hari ini aku akan menyerah dan lebih memilih pergi untuk membiarkan Nica dengan kehidupannya yang baru.
Entahlah pikiranku saat ini benar-benar kacau, dan yang menyebabkan semua ini adalah satu orang. Anica. Aku juga tak boleh melupakan satu hal yang penting ini. Aku harus berhati-hati dan selalu mengawasi Nica. Karena jika para pesaing bisnisku tahu bahwa Nica adalah kelemahanku yang paling utama, maka sudah bisa di pastikan bahwa nyawanya akan terancam.
Dengan tergesa aku segera menghubungi salah satu orang kepercayaanku. Aku memerintahkan untuk melakukan pengawasan dan penjagaan kepada Nica tanpa sepengetahuannya sedikitpun.
Satu kesalahan terbesarku saat mulai merintis kerajaan bisnisku adalah melakukan kerjasama dengan beberapa mafia yang tersebar di daratan Eropa. Dan dengan kehadiran Nica tak menutup kemungkinan orang-orang yang ingin menjatuhkanku pasti akan memakai jasa para mafia itu untuk menyerangku. Aku sangat tahu permaianan kotor seperti apa yang terjadi di dunia bisnis sekarang ini.
Nica... Apa yang harus aku lakukan? Agar kau bisa kembali mengingatku, aku benar-benar menderita. Karena kau begitu jauh, aku memang bisa mrnyentuh tubuhmu tapi aku tak bisa menyentuh hatimu.
Sesampainya di penthouse aku langsung membersihkan tubuhku. Masih terasa dengan jelas panas dan lembutnya bibir Nica di bibirku. Bibirnya yang menjadi canduku. Dengan gusar aku memaksakan kedua mataku untuk terpejam. Kejadian hari ini benar-benar menguras seluruh tenagaku.
***
ANICA
Aku hanya terduduk lemas di bawah guyuran air di kamar mandi. Tuhan, apa salahku? Mengapa atasanku sampai melecehkanku sampai seperti ini? Harga diriku sebagai seorang wanita benar-benar sudah hancur. Aku kotor, menjijikan, aku membenci tubuhku karena atasanku telah menjamah seluruh tubuhku.
Aku berteriak frustasi dengan air mata yang terus menerus turun dan bercampur dengan air yang mengguyur seluruh tubuhku. Andai saja Dad benar-benar sehat, aku akan dengan senang hati mengundurkan diri dari perusahan terkutuk itu. Terlepas dari cengkraman atasanku yang sangat sialan itu. Andai saja kecelakaan itu tidak membuat Dad mengalami kelumpuhan.
Namun semua telah terjadi. Aku tak bisa memutar kembali waktu yang telah lewat. Meskipun aku sangat ingin kembali ke masa lalu dan mengingat semua hal. Perasaan kosong di dalam hatiku ini tentu saja takkan membuatku merasakan kehilangan yang begitu menyesakan.
Rasa kekosongan yang aku tak tahu apa penyebabnya. Karena aku tak bisa mengingatnya sedikitpun. Freddie. Hanya nama itulah yang aku ingat, namun tak ada sedikitpun memori tentangnya yang aku ingat. Aku merasa bahwa nama itu benar-benar sangat akrab dan dekat denganku. Aku merindukan Freddie, seseorang yang tak kuingat sosoknya.
Freddie. Freddie. Freddie. Hanya nama itulah satu-satunya yang menjadi petunjuk bagiku. Dan yang menjadi masalah adalah aku harus memulai pencarian darimana? Apakah aku harus kembali ke kota kelahiranku untuk menyelidikinya? Ah, aku benar-benar bingung.
Puas berlama-lama di bawah shower aku langsung keluar dan segera mengeringkan tubuhku kemudian berpakaian. Aku merasa lelah, kelelahan secara emosinal dan semua itu di sebabkan oleh pria kurang ajar itu. Demi Tuhan, apa yang harus aku lakukan untuk menghindari kontak dengannya?
Mataku menerawang menatap langit-langit kamarku. Berbagai bayangan berkelebatan di depanku, namun aku tak bisa mengingatnya. Hingga akhirnya aku tertidur karena kelelahan.
Suara ketukan yang cukup keras langsung membuatku terjaga dari tidurku. Dengan kepala yang sedikit pusing aku memaksakan diri untuk bangun dan beranjak ke depan. Perlahan aku membuka pintu rumahku dan melihat seorang pengantar pizza di depanku. Meskipun bingung karena tak pernah memesan pizza sebelumnya aku terima saja tanpa merasa curiga sedikitpun, karena perutku terasa perih.
Ternyata sejak pagi aku belum memakan apapun meskipun sedikit. Apalagi di luar langit telah berubah menjadi gelap, pantas saja jika aku merasa sangat lapar. Setelah mengambil satu gelas besar jus jeruk aku duduk di atas sofa sambil menonton acara tv kesukaanku dan menikmati pizza yang masih panas ini. Hmmm, membuat perutku semakin lapar dan minta segera di isi.
Aku menggigit potongan pizza itu besar-besar, membuat kedua pipiku menggembung karena mulutku yang terisi penuh. Malam itu aku menghabiskan hampir tiga perempat loyang pizza berukuran besar sendirian. Inilah yang akan aku lakukan jika sedang ingin melupakan sesuatu, kali ini jelas dan sangat wajar karena aku ingin melupakan kejadian tadi pagi.
Aku benar-benar merasa kekenyangan. Hingga tiba-tiba saja tenggorokannku terasa begitu panas. Panasnya seperti terbakar, dengan panik aku meminum jus jeruk yang tinggal setengahnya hingga tandas. Namun rasa panas itu tak kunjung hilang, malah semakin panas. Dengan tertatih-tatih aku berjalan ke arah dapur dan langsung menenggak sebotol air putih dingin. Tapi rasanga tetap saja panas.
Rasa panas itu kini menjalar keseluruh tubuhku. Ya Tuhan, apa yang sebenarnya terjadi padaku? Mengapa rasanya sangat panas dan menyakitkan sekali. Aku bersadar di depan kulkas, tubuhku semakin merosot ke lantai. Tiba-tiba kegelapan datang dan menelanku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar