Minggu, 12 Januari 2014

BAB 5

Kau benar-benar menghilang bagai di telan bumi Fredd. Atau bahkan yang sebenarnya adalah kau ada di sekitarku namun aku tak menyadarinya karena karena sebaguan memoriku yang entah kapan kembali lagi.

Andai kau ada di sini Fredd, kau pasti akan melindungiku dari atasku yang tampan tapi sangat menyebalkan dan mesum itu. Tapi aku bisa apa? Mengundurkan diri dari perusahaannya sangat tak mungkin. Karena aku sangat membutuhkan uang untuk biaya pengobatan Dad. Hanya akulah harapan mereka untuk menopang perekonomian keluarga.

Tuhan, apa yang harus aku lakukan? Tak mungkin aku diam dan membiarkan atasanku itu berbuat semena-mena kepadaku. Aku harus menghentikan sikapnya yang tidak beradab itu. Tapi bagaimana caranya? Apa yang harus aku lakukan?

Aku terpekur lama sambil memegangi gelang perak itu. Sampai akhirnya aku menghela nafas dalam-dalam dan memutuskan untuk fokus pada pekerjaan yang menunggu untuk aku kerjakan. Mungkin dengan menyibukkam diri aku bisa melupakan kejadiam di dalam ruangan Mr. Mark tadi.

Fiuh, kau pasti bisa melakukannya Anica. Kau bisa, aku menyemangati diriku sendiri. Setelah meletakkan kembali gelang itu ke dalam tas, aku mulai memusatkan pikiranku untuk fokus pada pekerjaan yang sudah menumpuk di ataa meja.

Menyibukan diri dengan pekerjaan ternyata cukup ampuh. Setidaknya pikiranku bisa terbebas dari kejadian tadi dan Mr. Mark, meskipun hanya sementara waktu. Aku terus menerus berkutat dengan layar komputerku, bahkan aku lupa bahwa sekarang sudah saatnya jam kantor berakhir.

"Astaga, ternyata sudah pukul enam lewat tiga puluh menit. Bagaimana bisa aku tidak menyadarinya. Aku benar-benar sudah sangat terlambat sekali untuk pulang." Gumamku sambil mengedarkan pandanganku ke sekeliling.

Dan dengan terburu-buru aku segera mematikan layar komputer dan membereskan meja kerjaku. Setelah itu aku segera bergegesa pergi meninggalkan gedung. Sepanjang perjalanan menuju ke halte bis aku terus-menerus bergumam di dalam hati. Karena aku takkan mungkin bisa mendapatkan bis untuk pulang.

Karena aku tahu bahwa bis terakhir baru saja berangkat setengah jam yang lalu. Jadi di sinilah aku berada, duduk termenung di halte. Berharap akan asa sebuah keajaiban, oke mungkin terlalu berlebihan. Aku hanya berharap ada sebuah taksi yang lewat, agar aku bisa segera pulang ke rumah kontrakkanku yang mungil dan nyaman. Hari ini benar-benar hari yang sangat melelahkan.

Aku menyandarkan kepalaku pada tiang yang ada halte. Sedangkan tanganku mencengkram erat tas dalam pangkuanku. Sudah hampir satu jam aku menunggu di sini. Namun tak ada satupun kendaraan yang lewat. Haruskah aku berjalan kaki menuju ke tempat tinggalku? Aku tak yakin sanggup menempuh jarak sejauh itu.

Angin malam berhembus semakin kencang, rasanya begitu menggigit kulitku. Rasa dinginnya terasa menusuk ke tulang belulang di sekujur tubuhku. Hingga tiba-tiba saja rasa kantuk karena kelelahan menyerangku tanpa ampun. Berulang kali aku berusaha untuk tetap membuka kedua kelopak mataku, tapi sia-sia. Karena kedua kelopak mataku teramat sangat berat. Akhirnya aku menyerah.

Keesokan harinya aku terbangun dengan perasaan yang cukup membingungkan. Karena tubuhku terasa sangat hangat dan aku meniduri tempat yang sangat empuk sekali.

Berkali-kali aku mengerjapkan mataku sambil mengedarkan pandangan ke sekelilingku. Kamarku, ya aku saat ini sudah berada di rumahku. Tapi bagaimana bisa? Yang aku ingat bahwa aku sedang menunggu kendaraan untuk pulang tadi malam.

Aku menggeliat di balik selimutku yang nyaman dan hangat. Rasanya aku enggan sekali untuk beranjak dari tempat tidurku. Meskipun hari ini adalah hari Sabtu aku tidak terbiasa tidur hingga siang.

Setidaknya aku harus melakukan sesuatu seperti membersihan rumah sebelum kembali begelung di atas tempat tidur kesayanganku. Karena tidur setelah beraktifitas benar-benar sangat nyaman sekali.

Perlahan-lahan aku menyingkirkan selimut yang membungkus tubuhku. Lalu aku bangun dan melakukan sedikit peregangan, agar otot-otot tubuhku tidak terlalu kaku. Setelah itu aku langsung bergegas masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhku. Apalagi aku masih mengenakan pakaian kerjaku.

Setelah ritual membersihan diri dan berpakaiam selesai aku merasa jauh lebih segar. Lalu aku langsung membereskan tempat tidurku. Setelah selesai aku keluar dan berniat untuk membersihkan ruang tamuku.

Namun ada sesuatu yang membuat jantungku tiba-tiba menjadi berdetak lebih cepat. Perasaan takut pun akhirnya mempengaruhiku. Di sana di atas sofa ada seseorang yang tertidur di sana.

Dengan perlahan-lahan aku berjalan mendekati sofa yang ada di ruang tamu. Terdengar dengkuran halus yang berasal dari seseorang yang sedang tertidur di sofaku. Aku langsung melompat mundur dan menabrak meja ketika melihat siap yang tengah bergelung ria di sofaku itu.

Karena kegaduhan yang kubuat pria menyebalkan itu akhirnya membuka matanya. Wajahnya terlihat masih mengantuk dan sangat kelelahan. Sepertinya ia tidak merasa nyaman tidur di sofa yang kecil itu.

"Kau... Apa yang kau lakukan di rumahku?" Kata-kata itulah yang berhasil meluncur dari mulutku setelah aku berhasil menenangkan diriku.

Pria menyebalkam itu tidak langsung menjawab pertanyaanku, melainkan meregangkan tubuhnya sambil sesekali menguat dan mengucek matanya yang masih terlihat mengantuk itu.

"Jadi beginikah caramu berterima kasih pada pria yang telah menolongmu semalam?" Ungkapnya sambil berdiri dan mulai berjalan mendekatiku.

Secara relfeks aku berjalan mundur untuk menjaga jarak darinya. Aku terlonjak kagey ketika tubuhku menabrak tembok. Seketika itu pula dia langsung mengungkung tubuhku dengan tubuhnya.

"Mau apa kau?" Tanyaku sambil tetap mempertahankan suaraku yang datar. Meskipun jantungku saat ini berdetak dengan sangat cepat sekali.

"Sesuatu yang hangat dan manis di pagi hari tentu saja. Seperti..." dia menggantung kata-katanya. Matanya yang biru menatapku dengan begitu tajam. Lagi-lagi membuatku tersesat di dalam sana. Anehnya aku merasa sangat familiar sekali dengan tatapannya.

Tepat sebelum mulutku kembali mengeluarkan protes. Bibirnya yang panas langsung mengunciku, lidahnya yang kasar langsung menelusup masuk. Mencecap dan mengeksplorasi semua sudut rongga mulutku. Lidahnya terus menerus menginfasi mulutku.

Membuat kepalaku pening, kedua kakiku mulai lemas seperti jelly. Memaksaku untuk membalas setiap.ciumannya. Otakku berusaha keras untuk melakukan perlawan namun ternyata tubuhku mengkhianatiku.

Tubuhku malah semakin menginginkannya. Kedua tanganku langsung melingkari lehernya yang kokoh. Ciuman-ciuman itu kini berubah menjadi semakin panas dan semakin liar. Mr. Mark mencium tanpa jeda dan tidak memberiku kesempatan untuk mengambil nafas.

Hingga akhirnya ia menarik dirinya dan membiarkanku terengah-engah. Aku pikir Mr. Mark akan melepaskanku tapi ternyata ia malah melayangkan tangannya tepat di puncak dadaku dan mulai meremasnya dengan perlahan, membuatku merintih tertahan. Demi Tuhan, aku tidak pernah mengalami perlakuan seperti ini dari siapapun.

Aku berusaha untuk menolak setiap rangsangan yang di lancarkannya pada tubuhku dengan bertubi-tubi. Rasanya seperti aja aliran listrik yang mengaliri tubuhku dan semuanya berkumpul di bagian pusat diriku. Semua rasa panas itu berkumpul di sana.

Aku harus melawannya, aku tidak boleh membiarkannya leluasa untuk melakukan pelecehan padaku. Di sela-sela usahaku untuk melawannya, aku bisa merasakan tangannya menyusup ke dalam celana pendek yang kupakai.

"Teruslah melawanku Nica, sekeras apapun kau menolakku tubuhmu berlaku sebaliknya. Tubuhmu ingin di sentuh olehku." Bisiknya sambil terus menggesek-gesekkan tangannya di bagian sensitifku.

"Ugh..." astaga apakah suara itu keluar dari mulutku? Benar-benar sangat memalukan sekali, aku merutuki diriku sendiri.

Sedangan Mr. Mark yang menyebalkan itu terlihat begitu puas dengan senyuman di yang tersinggung di bibirnya melihat reaksiku yang mulai di kuasai oleh gairah yang tak pernah aku rasakan sebelumnya.

Mataku mengerjap dengan nafas tersengal, berusaha entah untuk yang keberapa kalinya melawan hasrat yang terlah berhasil dia bangun. Sensasi yang aku rasakan ini benar-benar sangat menyiksaku. Otot-otot di sekitar perutku mengejang, seperti terdapat ribuan kupu-kupu yang siap mengepakkan sayapnya di sana.

"Kau begitu menikmati permainanku, sayang." Lagi-lagi ia berbisik di telingaku. Dan entah mengapa suaranya terdengar begitu sangat menggoda sekali.

Tubuhku mulai mengejang, namun Mr. Mark masih tidak berniat untuk menghentikan siksaannya kepadaku. Semakin lama tubuhku semakin bergetar hebat, rasanya aku akan meladak di bagian puasat diriku.

"Hen-ugh... hentikan...ahh..." racauku sambil tetap berusaha menahan diriku.

"Tidak akan sayang, aku tidak akan berhenti secepat itu. Sudahkah aku mengatakan bahwa aku tidak akan melepaskan begitu saja sesuatu yang benar-benar aku inginkan." Ucapnya dengan suara berat.

Hingga akhirnya tubuhku kembali mengejang dan bergetar dengan hebatnya. Ledakan kenikmatan yang tak aku kehendaki sebelumnya akhirnya meledak sudah. Di tengah euforia itu aku merasakan tubuhku lemas, seluruh tenagaku terkuras habis. Saat tubuhku mulai meluruh ke lantai dengan sigap Mr. Mark langsung membawa tubuhku ke dalam pelukannya.

Ia lalu berjalan menuju ke kamarku, sedangkan aku hanya bisa terkulai lemas dalam gendongannya dengan mata yang tertutup. Seluruh tenagaku sudah terkuras habis untuk melakukan perlawanan.

Suatu hari nanti aku pasti akan membalas semua perlakuannya ini. Aku tidak akan membiarkannya kembali melakukan pelecehan kepadaku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar